Langsung ke konten utama

[Review] Obit dan Peri Gaul by Ina Inong




Judul: Obit dan Peri Gaul 
Penulis: Ina Inong
Penerbit: Tiga Ananda
Terbit: Cetakan Pertama, Juli 2011
Tebal: 96 Halaman

Obit adalah anak perempuan yang bekerja mengantarkan telur milik Bunda Mala (ibu pemilik dan pengasuh panti Insan Mutiara). Obit merasa bahwa hidupnya menyedihkan karena tidak memiliki orangtua yang bisa ia mintai uang atau apapun. Terutama, dia ingin sekali kue dan roti lezat di toko Tuan Bageli, sayang itu hanya impiannya saja karena Tuan Bageli pun tak pernah bermurah hati padanya, bahkan di satu kesempatan Tuan Bageli memberikan Obit kue, namun yang hancur. Hidup Obit berubah ketika ia bertemu Peri Usya, makhluk yang tidak pernah Obit kira merupakan peri ajaib baik. Peri Usya adalah peri gaul yang bersetelan anak muda, pantas Obit memanggil Peri Usya ‘kakak’, namun si peri menolak. Lalu, bagaimana Peri Usya mengabulkan permintaan Obit, sedangkan ia sendiri tengah ‘dihukum’?

Seperti biasa, ketika membaca novel anak, perasaan saya benar-benar dibawa bebas. Setiap kali menyusuri halaman per halaman novel anak, saya santai saja karena novel anak tampilan layout-nya memanjakan sekali dengan huruf-huruf besar dan ilustrasi-ilustrasi yang mendukung. Seperti contohnya di novel anak karya Ina Inong ini. Ceritanya sederhana sekali, mengenai interaksi tentang seorang anak perempuan sederhana dengan peri superunik yang tengah terdampar di bumi berhubung ia tengah dihukum oleh pemimpinnya yang mana ibunya sendiri. Dan yang paling penting masalah yang dibahas di buku ini hanya mengenai bagaimana mencapai mimpi Obit, dan beragam subplot mengenai konflik itu bermunculan.

Yang saya sukai dari novel ini adalah penulis membawa karakter-karakternya selalu dalam kondisi yang bagus, kocak, dan dengan pesan moral. Terutama karakter Peri Usya, banyak kelakuannya yang bisa membuat pembaca tertawa dan tentu saja ia mencerminkan karakter yang riang, gembira, penolong, dan peduli. Sedangkan Obit itu anak yang patuh, rajin, dan tak mudah menyerah.

Yang membuat saya kurang nyaman ketika membaca buku ini adalah beberapa dialognya masih digabung-gabung. Seperti beberapa dialog dari Peri usya yang disatukan dengan dialog Obit di bagian awal-awal buku. Menurut saya hal itu kurang baik karena pembaca bisa saja menjadi bingung kala membaca dialog itu.

Meskipun begitu, novel ini sangat direkomendasikan untuk dibaca karena banyak hal-hal ajaib dalam novel ini, terutama keajaiban-keajaiban Peri Usya yang baru akan tampak di bagian akhir cerita. Novel ini bisa dibilang menggemaskan, penuh humor, namun tetap beramanat yang bisa ditularkan kepada anak-anak.[] 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

D3 Bahasa Inggris Polban

[Review] Rahasia Tergelap by Lexie Xu

[Review] Antologi Rasa by Ika Natassa