Langsung ke konten utama

[Travel Writing] Plesir ke Bali (6D5N) 1-6 Juli 2019; Day 3 Bedugul dan Pengemudi Boat yang Aneh


Rombonga plesir Bali, Day 3
Postingan hari pertama di Bali, di sini
Postingan hari kedua di Bali, di sini

Awalnya atau seharusnya, hari itu aku dan teman-temanku berencana untuk pergi ke Bedugul temple dan Lempuyang temple, tetapi setelah berdiskusi dan mencoba belajar dari hal-hal yang telah terjadi, pada akhirnya aku dan teman-temanku berakhir dengan kesepakatan mengunjungi Begudul temple saja.

Aku lupa kapan tepatnya aku dan teman-temanku pergi, mungkin sekitar jam 8 atau sembilan. Sedangkan, perjalanan menempuh sekitar dua jam atau satu jam, aku lupa. Yang jelas perjalanan saat itu lumayan juga karena kami menuju daerah pegunungan yang sejuk. Sempat berhenti di pom bensin bahkan untuk solat dzuhur. Saat itu daerah tersebut diselimuti oleh kabut, hawa dingin pun terasa menusuk-nusuk sampai ke tulang. Untung saja mayoritas aku dan teman-temanku memakai jaket.

Setelah sampai di Bedugul temple, kesan pertamaku adalah wow, tempat ini lumayan juga karena bersih dan sepertinya tertata dan terawat dengan baik. Biaya masuk cukup 20.000 saja dan parkir 5.000. Saat baru masuk kami melakukan sesi foto-foto dulu dengan latar gerbang pura yang aku sendiri tidak tahu namanya, lupa hehe… yang jelas kami foto-foto di situ dan lumayan, bahkan sampai minta tolong orang.




Foto di area sebelum danau Bratan


Setelah puas foto-foto di situ, kami menuju ke daerah sekitar danau Bratan, itu lho danau di Bedugul yang kalian bisa lihat gambarnya di uang pecahan lima puluh ribu versi lama. Indah, sejuk, dan ramai, tapi damai itulah kesanku saat di situ. Kami foto-foto lagi, tapi tidak sebanyak sebelumnya. Kalau aku sih lebih mencoba menikmati momen di situ, soalnya entah kenapa menentramkan. Aku juga bisa dengan mata telanjang melihat langsung Bedugul temple yang terkenal itu, bukan lagi dari gambar uang, di brosur, atau di video, ini langsung cuy dan sureal banget sih menurutku.


Dan hal yang sebelumnya aku tak prediksikan bakal terjadi, malah kejadian. Apa itu? Jadi, pas di danau Bratan, rombongan teman-temanku mau nyoba naik boat. Dan aku juga kepengen dong soalnya penasaran. Cuma boat kecil doang untuk kapasitas enam orang. Aku juga nyoba dong soalnya kapan lagi kan, toh bayarnya masih terjangkau juga, cuma 30.000.


Foto sebelum boat berselancar

Pas udah naik, aku dan temen-temenku (cewek 4 orang) akhirnya kami meluncur dong di atas permukaan danau Bratan yang saat itu dingin banget asli. Gila, kita dibawa-bawa keliling dengan kecepatan normal pada awalnya, tapi pas di tengah-tengah agak cepet terus pas mau akhir, dibawa dengan kecepatan tinggi plus manuver-manuver yang bikin gila. Seru sih soalnya aku gak expect hal itu, kedua karena hal itu aku belum pernah mengalaminya.

Ada hal ganjil yang terjadi. So, pas di tengah–tengah danau, bapak pengemudinya mandek alias stop buat kita ada sesi foto-foto. Kita pikir kita bakal foto sendiri-sendiri gitu pakai kamera kita dengan difotoin dia. Ternyata dia nawarin jasa sendiri dan pas nawarinnya kaya gak niat gitu ya lord. Jadi kita bingung dan awkward dong. Mana setelahnya kita tau file fotonya gak bisa dicopy. Sedih deh. Cuma dapet print satu foto doang. Saat itu kita curi-curi foto sama temen yang posisinya di belakang dong. Tapi jadinya gak ada foto bareng pas di kapal alias boat. Capek deh. Tau gitu bisa minta foto pake kamera DSLR yang dibawa temenku, tapi itu juga ada kemungkinan ditolak bapaknya.




Kalian tau ini foto di mana


Setelah puas naik boat, ternyata ada temenku yang naik juga bareng rombongan orang asing, sayang istrinya cancel buat ikutan. Ada juga temenku yang gak naik soalnya mual dan gak suka bau kendaraan terutama kapal. Setelahnya kita makan di restoran depan tempat wisata Bedugul. Aku makan soto dan aku nyesel karena gak makan ayam betutu di restoran muslim itu. Gimana ya, ya udahlah mungkin di lain kesempatan.


Bye Bedugul

Setelah dari Bedugul, kita nyoba buat ke pasar Sukowati, udah tutup soalnya maghrib atau isya saat itu. Cuma ke kios-kios pinggirannya aja yang luckily masih buka. Tapi jadinya kita cuma punya limited options. Aku beli baju doang buat temen ama celananya. 

Ya setelah itu balik deh ke vila, sempet makan lagi di warung pinggiran, aku ga makan soalnya menu burgernya abis. Sad. Sampe ada drama anjing ketabrak lagi (sama orang), terus anjing-anjing lainnya menggonggong bareng-bareng gitu. Serem juga.

At least, hari itu bisa dapet pengalaman baru di Bedugul. Ya, feel so happy sih soalnya bisa mengunjungi tempat yang sebelumnya hanya jadi mimpi doang alias bisa dapet pengalaman yang gak pernah aku expect bakal terjadi di sini, di tempat yang jaraknya puluhan atau ratusan kilometer dari daerah sendiri. Priceless moment pokoknya.[]


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ulasan Sex/Life Season 1 (Review Sex/Life, Series Barat Bertema Dewasa)

 

Resensi Sumur Karya Eka Kurniawan (Sebuah Review Singkat)

 

Ulasan Novel Sang Keris (Panji Sukma)

JUDUL: SANG KERIS PENULIS: PANJI SUKMA PENERBIT: GRAMEDIA PUSTAKA UTAMA TEBAL: 110 HALAMAN TERBIT: CETAKAN PERTAMA, FEBRUARI 2020 PENYUNTING: TEGUH AFANDI PENATA LETAK: FITRI YUNIAR SAMPUL: ANTARES HASAN BASRI HARGA: RP65.000 Blurb Kejayaan hanya bisa diraih dengan ilmu, perang, dan laku batin. Sedangkan kematian adalah jalan yang harus ditempuh dengan terhormat. Matilah dengan keris tertancap di dadamu sebagai seorang ksatria, bukan mati dengan tombak tertancap di punggungmu karena lari dari medan laga. Peradaban telah banyak berkisah tentang kekuasaan. Kekuasaan melahirkan para manusia pinilih, dan manusia pinilih selalu menggenggam sebuah pusaka. Inilah novel pemenang kedua sayembara menulis paling prestisius. Cerita sebuah keris sekaligus rentetan sejarah sebuah bangsa. Sebuah keris yang merekam jejak masa lampau, saksi atas banyak peristiwa penting, dan sebuah ramalan akan Indonesia di masa depan. *** “Novel beralur non-linier ini memecah dirinya dalam banyak bab panja