Langsung ke konten utama

[Review] Eksistensi Rasa by Farah Hidayati


Judul: Eksistensi Rasa
Penulis: Farah Hidayati
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Editor: Dini Novita Sari 
Desain sampul: Farah Hidayati
Cetakan: Pertama, November 2015
Tebal: 248 hlm.

Baru pertama kali saya membaca sebuah buku yang sampulnya dibuat sendiri oleh penulisnya. Yup, maklum penulisnya lulusan arsitektur, masa bikin sampul buku aja gak bisa? Ternyata ia juga mahir dalam membuat konstruksi kisah novelnya terususun rapi, dan tentu saja ceritanya indah, setidaknya menurut saya. Farah membuat Eksistensi Rasa yang merupakan kelanjutan Konstelasi Rindu. Novel ini bercerita mengenai kisah persahabatan Rindu dengan Devin Jelaga Osman alias Djo. Konflik yang timbul dengan signifikan di novel ini lebih berfokus kepada Djo, mengenai eksistensinya di dunia ini yang selalu ia pertanyakan—siapa sebenarnya gue? Gue anak angkat, gimana asal-usul nyokap bokap kandung gue?Yang membuat novel ini menarik adalah bagaimana penulis menggali setiap karakternya dan konfliknya.

Dimulai dari karakter Djo yang merupakan tokoh sentral pria di novel ini. Penulis menggambarkan Djo yang delusional. Dia adalah tipikal cowok cerdas yang mungkin saja sempurna, namun Farah sepertinya sudah terlanjur menggambarkan Djo dengan prefensi seksualnya yang berbeda, dan hal itu selalu cenderung ke arah negatif, dan memang hal itu ditentang banyak orang termasuk Tuhan. Namun, untung saja yang hal tersebut bukan menjadi landasan besar novel ini, karena kita akan merasa ‘wah’ dengan inti cerita yang menitik beratkan pada pilihan-pilihan hidup Djo, pemikirannya, dan bagaimana ia menghadapi masalah termasuk problem yang ia hadapi dengan Rindu. Karakter Djo mampu menggambarkan sosok dewasa bukan kekanak-kanakan, Djo bisa secara langsung mengajak para pembaca untuk setidaknya bilang ‘Hei, gini lho cara orang dewasa bersikap! Contoh gue! Jangan hiraukan kekurangan gue!’

Sedangkan Rindu jatuh ke stereotip karakteristik perempuan dewasa muda yang masih berkubang dengan sikpanya yang ‘maaf’ lemah. Dia digambarakan mudah ‘ngambek’ dengan segala hal. Rindu adalah ratu drama di novel ini, masalah-masalah yang ia hadapi pun sebenarnya mudah dihadapi, namun ia selalu bertindak dan secara tidak langsung berpropaganda ‘Cewek modern tuh gini, dikit-dikit harus nangis, biar ada yang simpati’. Bahkan di salah satu bagian, diceritakan adik Rindu lebih dewasa dibanding dirinya. Untung saja kekurangan Rindu banyak ter-cover oleh Djo.

Next, mari bahas konfliknya. Dimulai dari simpati Djo yang menyuruh Rindu untuk ikut jadi asisten dosen difabel di kampusnya, hal itu ternyata berdampak pada Djo juga. Berefek baik dan buruk pada Djo. Berefek baik karena Djo bertemu dengan Ezra yang mana tahu seluk beluk kehidupan Djo, padahal ia orang asing. Berefek buruk bagi Djo, karena penulis secara implisit menampilkan Djo yang sepertinya belum siap lahir batin mengetahui latar belakang keluarga kandungnya. Konflik beruntun banyak terjadi di plot ini, mengaitkan Djo, Ezra, dan juga ada sangkut pautnya dengan dosen difabel yang saat itu menjadi tempat Rindu menaruh harapan besar. Penulis mampu menampilkan konflik besar ini bahkan melapisinya dengan hubungan mengawang-awang Djo dengan Ezra. Juga, ada ledakan di pertengahan cerita, karena ada keputusan lain Djo yang membuat hubungan persahabatannya dengan Rindu terancam retak. Farah sebagai penulis bisa menghadirkan resolusi yang apik untuk mengakhiri semua konflik. 

Beralih ke kelebihan. Menurut saya kelebihan dari Eksistensi Rasa adalah sebagai novel Young Adult, ia berhasil menampilkan potret remaja dewasa muda yang memang begitu adanya. Lewat karakterisasi Djo dan Rindu, entah kenapa saya bisa relate ke kedua tokoh itu, apa karena seumuran? Haha … terlebih Djo yang lahir 22 November 1994, saya juga lahir tiga hari setelah kamu lahir Djo, hehe … Kok malah ngebahas ini? Selain itu Farah sebagai pembuat cerita, bisa menebar hint-hint yang berpotensi membuat pembaca terus penasaran sepanjang cerita, dan ia berhasil membuat kegelisahan-kegelisahan pembaca di beberapa bagian terasa berdebam, sangat natural, terutama bagian terkuaknya misteri siapa orangtua kandung Djo dan apa sangkut pautnya dengan orang-orang macam Ezra dan si dosen difabel.

Lalu, gimana dengan kekurangannya? Gaya patah-patah penulis sangat rawan membuat pembaca kebingungan, terlebih novel ini merupakan sekuel, terlepas dari berdiri sendirinya kisah novel ini, namun banyak cerita di Konstelasi Rindu yang masih nyangkut. Jadi sangat bisa membuat pembaca berdecak ‘ini kenapa?’, ‘kok bisa gini?’, atau ‘apa sebab?’, terlebih banyak selipan pemikiran Djo yang tingkat tinggi semakin membuat pembaca-yang apabila bukan seleranya-bisa jadi sangat  kurang bisa menikmati.

Well, novel ini bisa menjadi alternatif bacaan akhir pekan. Meskipun tergolong sebagai novel ringan, tema yang dibahas lumayan kompleks. Namun, kisah Eksitensi Rasa memang langka sih, kisah yang menceritakan hubungan Djo dan Rindu-cewek cowok yang gak pernah persahabatannya jadi cinta-itu juga memuat banyak pesan mulia, bahwa mengenali siapa kita itu bukan perkara mudah, bahkan sangat rumit. Sekian review yang semoga tidak cukup delusional ini. Asli review ini jadi terpengaruh Djo, haha …

Dua kutipan favorit dari buku ini sebagai berikut.

“Sometimes you need to just do something. Not thinking about it too much.” Hal. 141.

“Tidak semua orang bisa punya mental yang kuat memelihara kebohongan dalam dirinya.” Hal. 227.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

D3 Bahasa Inggris Polban

[Review] Rahasia Tergelap by Lexie Xu

[Review] Antologi Rasa by Ika Natassa