Langsung ke konten utama

Let It Be Love Karya Vilda Sintadela




Judul: Let It Be Love
Penulis: Vilda Sintadela
Penerbit: GagasMedia
Terbit: Cetakan Pertama, 2015
Tebal: 260 Halaman
Editor: Mita M. Supardi & Tesara Rafiantika
Desainer Sampul: Ayu Widjaja

   Bagaimana rasanya jika belum pernah merasakan hal yang namanya cinta? Seseorang yang belum merasakannya kadang sering terlihat membosankan karena terus bersikap tidak ramah bagi lingkungannya, khususnya bagi mereka yang juga sibuk dengan pekerjaannya, seakan hidup di dunia ini tak lain dan tak bukan adalah bencana. Lalu bagaimana jika dua orang dewasa yang belum pernah merasakan cinta mengalami hal tersebut untuk pertama kali? Bagaimana jika keduanya dipertemukan dalam suasana yang serba kikuk dan aneh?
    Novel Let It Be Love mengambil premis yang sejujurnya unik mengenai dua orang insan yang belum pernah merasakan cinta. Adalah Ariana, seorang desainer furnitur yang kerap kali total dalam pekerjaanya harus menerima perintah atasannya Pak Pram ketika harus bekerjasama dengan seorang tukang di bengkel langganan perusahaannya. Orang tersebut kurang bisa diajak kerjasama karena kerap kali dingin dan sok tahu. Adalah Ahda yang menjadi tukang yang berurusan dengan Ariana kali ini, menurutnya pun Ariana juga arogan.
    Ahda dan Ariana saling menemukan baik buruk karakter mereka satu sama lain. Di lain sisi keduanya merasakan hal indah tumbuh di hati mereka masing-masing. Semua berkat keduanya saling menemukan sisi lain karakter masing-masing. Sebut saja Ariana yang biasanya bersikap ketus dan tidak ramah, entah kenapa menghadapi Ahda yang sederhana dan terkesan cuek malah membuatnya menjadi penasaran, kadang rasa cinta datang tanpa memerlukan alasan bukan? Begitupun Ahda, entah kenapa Ariana malah akhir-akhir ini selalu muncul dalam benaknya, memberikan inspirasi-inspirasi dalam setiap karya seninya. Sungguh ajaib. Bahkan Ariana dijadikan obyek lukisan indahnya, tentu secara tersirat.
    Hubungan kedua karakter semakin berkembang ketika Ariana mendapatkan undangan dari Ahda untuk menghadiri pameran karya seninya. Pameran? Ya, Ahda sebenarnya seorang seniman berbakat yang merantau, tentu ia belajar dari seniman Bali bernama Nyoman alias si pemilik bengkel langganan perusahaan Ariana, lalu dari Bali segalanya terkuak bahwa Ahda memang belum pernah menggandeng perempuan selama ini, pun Ariana mendapati fakta bahwa entah kenapa hatinya semakin meneduh kala di dekat Ahda, apalagi setelah Ahda memberikannya kalung berbandul bunga teratai, bagaimanakah kisah selanjutnya?
    Saya suka sekali dengan analogi yang penulis gunakan untuk kedua karakternya dalam novel ini. Ariana digambarkan sebagai lotus yang selalu merindukan bau tanah basah setelah hujan, hal itu adalah Ahda. Juga mengenai dunia desain yang sangat kental dalam buku ini, bukan hanya desain furnitur tetapi semua menyangkut karya seni, penulis benar-benar bisa menggambarkannya dengan menarik dan bersinergi menyokong cerita hingga terasa benar-benar bukan tempelan dan tentu saja menggugah pembaca untuk larut dalam ceritanya, plus mendapat pengetahuan-pengetahuan baru seputar dunia seni rupa khususnya.
    Juga mengenai konfliknya. Penulis benar-benar mengangkat masalah yang tidak cukup pelik, namun ia bisa mengembangkannya menjadi sangat-sangat lancar, dan tentu saja tokoh-tokoh figuran amat berperan di luar karakter-karakter utamanya, sebut saja Damar, Maya, Hedi, dan lainnya.
    Mungkin, yang menjadi kekurangan buku ini adalah bagaimana masa lalu karakter tidak dijelaskan alias kurang tergali. Hemmm, ketika buku ini saya sodorkan kepada teman, dia sangat menyoroti hal ini bahwa karakter Ariana dan Ahda yang sekarang seharusnya terbentuk dari peran masa lalu, dan penjelasan masa lalu itu sungguh perlu dituturkan di cerita buku ini.
    Overall, buku ini cocok dinikmati saat hujan, mungkin aroma cerita dalam novel ini akan ikut larut bersama suasana hujan karena ceritanya soft dan bisa dijadikan referensi untuk penulisan karya fiksi yang baik. Saya juga mengutip beberapa kalimat yang menurut saya keren dari novel ini.

    When you’re falling love, you can’t use logic and emotion at the same time. But you can control them, become one harmony. That’s design used for … (hal. 258)

    Terkadang kamu nggak perlu alasan untuk mencintai sesuatu atau seseorang. Kamu tahu? Rasa itu muncul bukan atas kuasamu. (hal. 181)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

D3 Bahasa Inggris Polban

[Review] Rahasia Tergelap by Lexie Xu

[Review] Antologi Rasa by Ika Natassa