Langsung ke konten utama

After Rain, Tentang Move On dan Mengambil Keputusan


Judul : After Rain
Penulis : Anggun Prameswari
Penerbit : Gagasmedia
Tahun Terbit : 2013
Jumlah Halaman :  323 halaman
Harga :  Rp. 46.000
ISBN :  978-979-780-659-0

Mungkin aku dibutakan oleh cinta, sebab akalku dikacaukan olehmu.
Seberapa banyak pun aku meminta, kau takkan memilihku.
Ini yang kau sebut cinta?
Menunggumu bukan pilihan.
Izinkan aku meninggalkanmu, dengan serpihan hati yang tersisa.
Dan jika ternyata dia yang ada di sana,
sama-sama menanggung keping-keping hati yang berhamburan,
saat kami saling menyembuhkan—salahkah itu?

Untuk seorang penulis yang sering menelurkan tulisan-tulisan bernapas pendek, saya rasa Mbak Anggun berhasil merevolusi dirinya untuk memiliki kompetensi sebagai penulis karya bernapas panjang. Pasalnya dalam novel ini, ia berhasil meramu konflik yang dialami Serenade Senja, Bara, dan Elang dalam racikan super renyah. Dalam After Rain ini, konflik yang coba ditonjolkan adalah bagaimana aksi-aksi yang dilakukan orang-orang yang terlibat dalam hubungan gelap, yang tentu saja masalahnya tidak melulu itu, tetapi lebih ke bagaimana cara mereka (tokoh-tokohnya) menghadapi masalahnya sebagai si orang ketiga, orang yang  terjebak dalam dilema, dan si penyembuh luka.
 
Seren yang terjebak dalam tiga tahun terakhir hubungan haramnya dengan Bara yang telah memiliki istri harus menelan pil pahit ketika Bara menyadari bahwa ia harus mengakhiri hubungannya secara sepihak, hal itu membuat Seren kecewa karena satu hal: ia dan Bara sebenarnya telah menjalin hubungan terlarang selama sepuluh tahun (tujuh tahun ketika Bara belum menikah, dan tiga tahun setelah Bara menikah), sebenarnya Seren juga tidak bisa dibilang sebagai orang ketiga, namun ia harus tetap menjalankan hubungannya karena Bara pun masih belum bisa melupakannya. Barulah setelah Bara tiga tahun bersama istrinya plus sekarang telah memiliki anak, ia rasa dirinya sadar bahwa bukankah lebih baik mengakhiri segalanya? Semua demi kebaikan Seren juga anak dan  istrinya.

Yang menjadi bagian yang mempertebal buku ini adalah scene-scene setelah Seren merasa patah hati berat. Setelah pemutusan menyakitkan itu, Seren mencoba benar-benar melepaskan diri dari Bara dengan resign sebagai sekretarisnya. Tentu saja, Seren telah merencanakan pindah ke mana, ia kemudian mendaftarkan dirinya sebagai guru bahasa Inggris di SMA swasta. Di sanalah Seren bertemu dengan Elang, guru musik yang ternyata memiliki masa lalu mirip dengan dirinya, ia juga ditinggal oleh kekasihnya saat kekasihnya memutuskan menikah dengan orang lain, bedanya Elang langsung memutuskan hubungan saat peristiwa perih itu terjadi.

Sebenarnya bagaimana penyelesaian konflik dalam buku ini sungguh bisa kita terka semenjak konflik-konfliknya terpercik satu-satu. Endingnya tidak terlalu menggugah, namun terasa manis ketika kita bisa lihat perjalanan Seren yang untuk move on saja dia harus tertatih-tatih. Romansa antara Seren dan Elang pun terasa hidup ketika masing-masing dari mereka mencoba menguak masa lalu tokoh-tokoh lainnya, tentu saja dengan penceritaan yang legit bertabur banyak lagu, buku ini semakin terasa berwarna ditambah yah tentu saja cover bukunya yang elegan.

Mungkin kekurangan buku ini hanya terletak pada proses saling mencintai Elang dan Seren yang terlalu cepat, karena faktanya Seren telah menjalin kasih dengan Bara sangat lama plus mantan kekasih Elang pun bekerja satu atap dengan Elang dan Seren, tentu saja bagi pembaca yang kritis, hal ini terasa sebagai bolong dari serentetan plot yang membentuk novel ini. Selebihnya, sungguh novel ini patut dijadikan koleksi karena amanahnya benar-benar menancap: untuk berlabuh ke hati yang tepat, tak perlulah cinta buta untuk saling memiliki.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ulasan Sex/Life Season 1 (Review Sex/Life, Series Barat Bertema Dewasa)

 

Resensi Sumur Karya Eka Kurniawan (Sebuah Review Singkat)

 

Ulasan Novel Sang Keris (Panji Sukma)

JUDUL: SANG KERIS PENULIS: PANJI SUKMA PENERBIT: GRAMEDIA PUSTAKA UTAMA TEBAL: 110 HALAMAN TERBIT: CETAKAN PERTAMA, FEBRUARI 2020 PENYUNTING: TEGUH AFANDI PENATA LETAK: FITRI YUNIAR SAMPUL: ANTARES HASAN BASRI HARGA: RP65.000 Blurb Kejayaan hanya bisa diraih dengan ilmu, perang, dan laku batin. Sedangkan kematian adalah jalan yang harus ditempuh dengan terhormat. Matilah dengan keris tertancap di dadamu sebagai seorang ksatria, bukan mati dengan tombak tertancap di punggungmu karena lari dari medan laga. Peradaban telah banyak berkisah tentang kekuasaan. Kekuasaan melahirkan para manusia pinilih, dan manusia pinilih selalu menggenggam sebuah pusaka. Inilah novel pemenang kedua sayembara menulis paling prestisius. Cerita sebuah keris sekaligus rentetan sejarah sebuah bangsa. Sebuah keris yang merekam jejak masa lampau, saksi atas banyak peristiwa penting, dan sebuah ramalan akan Indonesia di masa depan. *** “Novel beralur non-linier ini memecah dirinya dalam banyak bab panja