Langsung ke konten utama

Kebahagiaan Baruku Saat Membaca Buku

Sewaktu masih di bangku kuliah, membaca buku adalah caraku untuk terlepas dari kepenatan. Dahulu, kehadiran gadget belum sempat heboh seperti sekarang. Ditambah juga kesibukan kerja bukan bagian dari keseharianku yang menyita waktu. Sekarang berbeda, karena keduanya menjadi bagian dari hari-hariku, maka aku sangat jarang membaca buku akhir-akhir ini. 

Tahun ini aku sudah beberapa kali menamatkan membaca buku, dan masih beberapa buku lagi belum kuselesaikan proses membacanya.

Di antara hal-hal tadi, aku temukan kebahagiaan membaca buku yang mungkin selama ini aku belum pernah rasakan, dan hal itu rasanya sungguh melegakan.


Salah satunya adalah bahwa membaca buku tidak perlu terburu-buru. Dulu, aku sering mengirim resensi dan selalu mendapatkan hadiah saat resensi hadir di ruang publik. Jadi, saat membaca buku terasa terburu-buru karena aku harus segera tahu isi buku itu dan melaporkannya dalam bentuk review atau dulu sering kusebut resensi. Sekarang karena tidak lagi mengirim review, aku pun tidak buru-buru dalam membaca buku-buku atau novel-novel, kadang aku mencuri-curi waktu atau aku membaca ketika dalam keadaan tidak lelah baik emosional atau mental. Seringnya, aku temukan kebahagiaan itu, membaca sekadar satu-dua atau beberapa halaman, dan aku pun merasa lega karena bisa membacanya tanpa harus sesegera mungkin menuntaskannya. Atau pernah satu atau dua kali membaca sekali duduk karena perasaan penasaran dan tertarik dengan buku yang saat itu kubaca sungguh menggebu-gebu.

Kebahagiaan lain yang kurasakan saat membaca buku akhir-akhir ini adalah saat membaca ulang buku. Seringnya aku lupa apa yang telah aku baca terutama buku-buku yang kubaca beberapa tahun lalu. Entah kenapa saat aku membacanya kembali, aku bisa merasakan perasaan yang melegakan yang mungkin sebelumnya belum pernah aku rasakan. Salah satunya saat aku membaca kembali buku puisi Aan Mansyur berjudul Ketika Api Bekerja. Ada sebuah puisi dalam buku itu berjudul Pulang ke Dapur Ibu, sungguh penuh rasanya saat aku kembali mampu membacanya di sela-sela waktu kepenatan dan kelelahan melanda. Salah satu bunyi larik puisinya sebagai berikut:

"Aku hidup di antara orang-orang
yang memilih melakukan usaha lebih keras
untuk menyakiti orang lain
daripada menolong diri sendiri.

Aku ingin pulang ke dapur ibuku,
melihatnya sepanjang hari tidak bicara.
Aku ingin menghirup seluruh kebahagiaannya
— yang menebal jadi aroma
yang selalu membuat anak kecil dalam diriku kelaparan."


Aku benar-benar menginterpretasikannya sebagai perasaan yang tenang saat bisa kembali mengunjungi ibu kala sesak dan penat datang bertubi-tubi di tengah-tengah kelelahan menjalani kehidupan yang serba terburu-buru.

Begitulah rasanya aku bisa menemukan kembali kebahagiaan-kebahagiaan kecil membaca buku. Dari hal ini aku memetik sebuah pesan bahwa memang terkadang membaca memerlukan usaha untuk menyelesaikannya, ditengah-tengah prosesnya ternyata aku bisa menemukan hal-hal yang membuatku takjub. Bukan hal-hal mahabesar, namun tetap saja merasa membuatku sangat senang menjalaninya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Resensi Sumur Karya Eka Kurniawan (Sebuah Review Singkat)

 

Ulasan Sex/Life Season 1 (Review Sex/Life, Series Barat Bertema Dewasa)

 

Review Fairish by Esti Kinasih: “Cinta Berawal dari Pacaran Palsu”