Sewaktu masih di bangku kuliah, membaca buku adalah caraku untuk terlepas dari kepenatan. Dahulu, kehadiran gadget belum sempat heboh seperti sekarang. Ditambah juga kesibukan kerja bukan bagian dari keseharianku yang menyita waktu. Sekarang berbeda, karena keduanya menjadi bagian dari hari-hariku, maka aku sangat jarang membaca buku akhir-akhir ini. Tahun ini aku sudah beberapa kali menamatkan membaca buku, dan masih beberapa buku lagi belum kuselesaikan proses membacanya.
Menonton film Avatar Fire and Ash di penghujung tahun adalah pengalaman yang tak terlupakan pasalnya aku mencoba menonton film ini dengan istri ketika aku skip film Avatar the Way of Water alias film keduanya. Secara garis besar, film ketiga seri Avatar ini cukup mengesankan meskipun banyak hal di dalamnya terasa hampa. Alur cerita film ini maju mengisahkan Jake dan keluarga yang awalnya berkelana demi membantu Spider. Di tengah petualangan, mereka dihadang bangsa abu yang mana membuat mereka kalah telak dan tercerai berai. Spider yang awalnya kesulitan bernapas karena harus menggunakan alat bantu, akhirnya ia sekarat karena jatuh dan kehilangan stok alat bantu napas. Dengan bantuan Kiri yang meminta tolong Eywa sang dewa atau Tuhan suku mereka, Spider terselamatkan dan mampu bernapas tanpa alat bantu karena di tubuhnya telah mengalir sel-sel tempat tinggalnya kini. Konflik tak hanya tentang bagaimana Jake mempertahankan suku air, tetapi juga tentang konflik Jake bes...