Langsung ke konten utama

Jendela Kelam Naraya


     JENDELA KELAM NARAYA
Oleh Dede Abdul Hamid

        Bagi seorang Naraya hidup sudah tak bisa menawarkan rasa manis lagi sehingga ia memutuskan untuk mengurung jiwanya dalam sebuah jendela. Ritual yang tiap hari ia lakukan hanya terpaku di depan persegi panjang kaca dengan bingkai jati yang sengaja dipahat halus itu. Ia mencoba menorehkan segalanya di sana, bahkan sampai kedua orangtuanya pasrah untuk tak mengurusinya lagi. Bahkan salah satu di antaranya—ibunya—telah lama meninggalkannya, kabar burung yang beredar ia sudah benar-benar tidak kuat lagi mengurusi anak semata wayangnya yang ia pikir sudah setengah gila.
    Naraya tak melakukan segalanya begitu saja. Selalu ada alasan ketika satu fenomena terjadi dalam hidupnya. Suatu waktu ia sudah hampir tak kuat lagi menanggung gunjingan tetangga-tetangganya yang sebegitu banyaknya tentang dirinya, yang hampir kepala tiga tetapi tak kunjung ada yang meminangnya. Ia berdoa pada Yang Maha Kuasa untuk disegerakan didatangkan pangeran yang bersedia menjadikannya teman hidup selamanya. Dan pada suatu malam ia temukan sosok itu keluar dari dalam jendela kamarnya yang menghadap langsung ke halaman depan istana sederhananya.
    Ia takjub dan tak percaya seseorang bisa keluar dari sana. Lelaki dengan kedua sayap dan rupa bak seseorang dari negeri seberang. Kemudian diajaknya sesosok itu untuk berbicara dengan Naraya. Sampai lama, sampai suatu waktu obrolan mengalir bak arus deras air sungai di dekat rumah Naraya. Dan Naraya tak sanggup lagi bicara dengan orang ajaib tersebut. Lalu Naraya menguap dan tertidur begitu saja. Lelaki tadi tak merasa terganggu meski Naraya pergi meninggalkannya untuk bermain ke alam mimpinya.
    “Naraya ….”
    Naraya tak menyangka ia akan temukan sosok itu lagi dalam bunga tidurnya. Ia pikir lelaki itu belum cukup puas bicara panjang lebar dengannya di alam nyata. Kini, ia terlihat lebih nyata di mata Naraya saat ditemui di alam tidurnya.
    Naraya benar-benar tak percaya dengan semua yang dilihatnya sekarang, “Kau, apa benar-benar sosok yang diutus Tuhan untuk mengusir sepiku?”
    Lelaki itu tersenyum simpul saat telinganya menangkap tanya dari seorang Naraya. Mungkin ia menyiapkan sesuatu yang Naraya tunggu selama ini. Sesuatu yang tentu semua orang inginkan, sesuatu yang mungkin saja Naraya telah lama damba. Ia langsung saja tak banyak bicara, dikecupnya Naraya dengan sangat lama dan sesuatu yang lain terjadi begitu saja setelahnya. Naraya tak banyak protes, ia menikmatinya.
***
    Ayah Naraya tak bisa bicara apa-apa saat dihadapkan pada situasi genting ketika putri semata wayangnya yang berprofesi sebagai guru PAUD itu tak kunjung keluar dari kamarnya. Ia sangka putrinya tengah mengidap entah penyakit apa, yang jelas hal itu mungkin saja membuat putrinya malu setengah mati untuk beraktivitas. Informasi-informasi yang jelas jujur saja hanya bisa ia dapat langsung dari istrinya, ibu Naraya yang saat itu masih punya kesabaran untuk menghadapi putrinya.
    “Bu, anak kita kenapa?”
    Ibu Naraya saat keluar dari kamar putrinya menampilkan raut muka yang membuat ayah Naraya kaget sekaget-kagetnya. Ia pikir istrinya tengah tertular penyakit putrinya yang ia duga tidak akan lama lagi mungkin akan menularinya juga.
    Ibu Naraya masih dengan wajah cemasnya berbicara seakan-akan semuanya baik-baik saja, sayang Ayah Naraya tidak bisa ditipu dengan wajah istrinya tersebut, “Naraya sehat ….”
    “Bu, jangan berbohong …. Sudah dua minggu Naraya mengunci pintu kamarnya, tidak mungkin tidak terjadi apa-apa dengannya. Pastilah ada sesuatu yang kira-kira menjadi latar belakang masalah ini. Tolong Bu, jawab jujur kenapa di hari keempatbelas aktivitas mengurung dirinya di kamar itu ia menyerah untuk memanggil ibu ke kamarnya?”
    Ayah Naraya sudah tidak bisa berpikir tenang lagi. Ia seharusnya tak jadi panik saat ia temukan fakta bahwa putrinya yang telah dua minggu itu hilang di rumahnya sendiri masih bernyawa meski tanpa makan atau minum, dugaannya sungguh barangkali Naraya punya suplai makanan-makanan berat di kamarnya sehingga ia ditemukan masih bernafas meski kabut misteri menyelimutinya.
    “Katakan, Bu!”
    Istrinya masih wagu, sedangkan Ayah Naraya hampir naik pitam.
    “Bu, tolong katakan apa yang sebenarnya terjadi ….”
    Ibu Naraya tiba-tiba menitikkan air mata, ia bahkan menggigit bagian baju kerah yang dipakainya. Ia tersedu-sedu dan rintihannya semakin menambah suasana tambah runyam. Lelaki di hadapannya alias suaminya semakin tidak mengerti. Hal yang mungkin saja suaminya tunggu saat itu adalah pengakuan jujur dari mulutnya, batinnya.
    “Ibu sudah tidak sanggup lagi menanggung beban ini pak …,” lelaki di depannya terlihat makin risau, “bapak jangan sampai shock kalau mendengar kabar ini, bahwa anak kita tengah mengandung benih yang tak jelas juntrungannya ….”
    Jiwa Ayah Naraya kemudian seperti tengah dibenturkan dengan godam raksasa.
***
    Naraya sejak pertama kali bertemu dengan sosok yang membuatnya melambung tinggi itu semakin bahagia saat enam hari setelahnya ia mengalami hal serupa. Jumlahnya sudah tujuh hari berturut-turut ia menikmati kenikmatan yang selama ini ternyata tak ia sadari sebagai sesuatu hal yang ia sangat inginkan. Kadang, selama ini ternyata ia tak sadari bahwa ada sesuatu yang menjadi keinginannya begitu begitu besar, namun baru sekarang ia sadari.
    Sehari-hari Naraya berkecimpung sebagai guru PAUD dengan gajinya yang tidak sampai lebih dari tiga ratus ribu rupiah per bulan. Maklum, institusi pendidikan di kampung tempat tinggalnya tak begitu dilirik banyak orang meski banyak yang beranggapan bahwa yang namanya sekolah itu penting apalagi semenjak usia masih kecil. Tetapi, hal itu tidak membuat Naraya jengah dan menyerah, ia hidup untuk menyibukkan diri. Lari dari pekerjaannya yang sebelumnya telah membuatnya amat lelah, asisten rumah tangga di negeri jiran.
    Sedang Ayahnya yang tetap setia pada pekerjaannya sebagai mandor pabrik tebu seakan-akan apatis-apatis saja pada anaknya. Ia selalu setuju pada keputusannya sendiri, dulu ia dengan teganya menyuruh Naraya untuk berkelana ke negeri orang lain demi segepok uang. Naraya berusaha terima-terima saja dengan semua itu, namun saat ia pulang betapa kecewanya ia karena Ayahnya seakan tak menyiapkan jodoh untuknya, setidaknya orang yang bisa Naraya uji komitmennya. Apalagi, Ibunya yang Naraya pikir hanyalah sosok yang bisa menguras keringat anaknya saja dengan seenaknya, ia hadir sebagai orang yang Naraya pikir satu dua dengan Ayahnya, hanya bisa memanfaatkan Naraya dan kemudian bisa tiba-tiba menjadi sangat bawel karena putrinya ia pikir tak berusaha untuk kelangsungan hidupnya di masa depan alias masih tetap belum menikah-menikah.
    Dan sekarang kedua orangtua Naraya sangat kebingungan karena tahu Naraya sedang mengandung bayi yang Naraya bilang hasil dari hubungan gelapnya dengan lelembut. Hal yang sebenarnya Naraya bikin agar kedua orangtuanya mencurahkan segala perhatiannya pada Naraya. Hal yang dibuat-buat agar Naraya semakin menikmati esensi hidupnya yang selama ini membuatnya kacau balau, karena ia pikir sekarang lebih baik semua orang di sekelilingnya tahu bahwa hidupnya telah hancur sejak lama, lebih pahit dari gunjingan manapun, dan tentu saja ia sedang tidak main-main. Meskipun, ada hal yang lebih kejam lagi tengah membayang-bayang pada kehidupan Naraya.
***
    Tetapi setelah tujuh hari itu Naraya tak bertemu lagi dengan sosok yang keluar dari dalam jendela. Meski, Naraya masih setia duduk di depan jendela kamarnya. Di atas tempat tidurnya Naraya mengarang-ngarang cerita tentang apa yang akan dilakukannya setelah ini, mungkin sebuah kabar yang mampu menggegerkan seluruh kampungnya agar ia tak diusik lagi, atau membuat sesuatu yang ia bisa jadikan permainan untuk kedua orangtuanya yang ia pikir selama ini hanya memanfaatkan dirinya semata.
    Naraya berusaha untuk melakukan segalanya penuh perencanaan. Semuanya karena akhir-akhir ini tetangganya yang masih belia melangsungkan pernikahan sehingga efek yang ia dapat adalah gunjingan yang bahkan tak ia sangka terlampau banyak bak kacang goreng. Membuatnya sulit berpikir jernih sehingga ia terjebak dalam lamunan panjang. Di rumah, di sekolah PAUD tempat ia mengajar, bahkan di kamar mandi pasar yang waktu-waktu lalu ia gunakan saat tak kuat menahan kencing saat tengah berbelanja. Namun, ia memutuskan melakukan hal yang banyak dilakukan oleh orang yang sedang didera depresi berat, ia menyendiri di kamar dan meletuslah lamunannya.
    “Ibu, Nay kemarin ke tempat pesugihan dan berharap mendapatkan wangsit yang Nay pikir akan membuat Ibu dan Bapak tak usah memikirkan Nay lagi ….”
    Sejak pernyataan itu terlontar dari lisannya tempo lalu dan dibarengi kabar lain setelahnya yang tak kalah menghebohkan, ibunya tak kunjung berhenti memberondong Naraya yang biasa dipanggil Nay itu dengan pertanyaan-pertanyaan yang menurut Nay spektakuler, Naraya tahu ibunya tak pernah selalu membuatnya merasa diperhatikan keculi ketika Naraya sedang dalam posisi-posisi darurat.
    “Nay, apa semuanya sungguhan?”
    Untuk menjawab semua itu Naraya tak perlu berkoar panjang lebar. Pertanyaan ibunya dijawabnya tegas dan singkat hanya dengan anggukan yang menyelesaikan segalanya. Padahal pertanyaan hadir setelah tak lama ibu Naraya mengundang orang pintar datang ke rumahnya. Tentu saja tanpa pengetahuan anaknya, sehingga kesimpulan itu hadir sebagai sesuatu yang dirahasiakan masing-masing pihak. Ibu Naraya menarik kesimpulan yang menyatakan bahwa anaknya memang sudah saatnya ia tinggalkan karena ia sudah tak punya apa-apa lagi kecuali hal yang akan menyiksanya terus-menerus, hal tersebut tentu saja tidak akan dilakukan oleh ibu manapun, kecuali anaknya tak lahir dari rahimnya sendiri.
***
    Kabar tetang Naraya yang dihamili lelembut telah menyebar ke seluruh penjuru kampung. Hal yang tidak diketahui banyak orang adalah hal itu dianggap Naraya sebagai kebohongan besar padahal memang suatu waktu kemarin sosok malaikat yang tidak benar-benar malaikat menyatroni rumahnya. Mencoba menyadarkan bahwa kisah semu Naraya harus benar-benar berakhir.
    Sedangkan Ayah Naraya masih sibuk dengan pekerjaannya, ia tak pernah peduli pada Naraya karena memang anak tersebut pun tak jelas juntrungannya. Karena pada suatu malam di masa getir saat ia dan istrinya tengah putus asa karena keturunan tak pernah hadir di tengah rumah tangganya, ia mendapatkan masa depan cerah saat di pinggir jalan ia temukan seorang bayi yang tengah menangis dalam kardus. Tetapi, tak pernah ia sangka akhir ceritanya akan menjadi seperti ini.
    Sedangkan Naraya masih tetap mematut diri depan jendela kamarnya. Jiwanya berkela ke kehidupan masa lalunya. Saat ia masih di negeri jiran, ia terjebak dalam kondisi serba salah karena mengandung janin dari seorang yang masuk ke dalam kamarnya lewat jendela rumah majikannya, sosok itu tampak menakutkan karena memakai kedok dan ia merenggut mahkota Naraya belia. Sampai ketika Naraya tiba di negerinya sendiri dan mencoba melawan kecamuk pikirannya, ia masih tak habis pikir kenapa ia selalu dihantui kisah yang datang dari kekejaman masa lalu? Juga ditambah problematika kehidupannya berupa gunjingan tetangga-tetanggnya dan ketidakpedulian kedua orangtuanya. Semuanya ia pikir larut dalam jendela di kamarnya. Sungguh ia masih bertanya-tanya, andai saja ia tak memupus jabang bayinya kala itu? Naraya masih terjebak dalam dimensi rintihan jendela pikirannya sendiri.[]


Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

D3 Bahasa Inggris Polban

[Review] Rahasia Tergelap by Lexie Xu

Review Novel ‘I am Yours’ Karya Kezia Evi Wiadji

Sinopsis Awalnya Amelia dijadikan sasaran empuk Alex. Playboy itu menginginkan Amelia menjadi pacarnya karena gadis itu mungil dan tampak energik. Sahabat Alex, David selalu setuju dan memaklumi temannya yang buaya darat itu, ia percaya bahwa kali ini Alex tidak akan bertingkah lagi. Karena sebenarnya David pun mencintai Amelia, melebihi Alex, melebihi perkiraan Amelia yang sebenarnya. Dalam usahanya menjadikan Amelia pasangannya, Alex selalu mengajak David, dan Amelia selalu mengajak sahabatnya Sandra yang diam-diam sepertinya mencintai David. Detik berlalu, menit berganti, dan tentu saja ada yang berubah, ada yang mengalami proses dengan cepat. Alex kini resmi menjadi pacar Amelia.             Namun, dalam prosesnya lama-kelamaan Amelia tidak senang dengan kehadiran Alex lagi. Saat ia tahu ada seseorang yang mengandung benih Alex, ia juga dihadapkan pada perasaan hangat David yang datang dengan sangat tepat—saat cintanya berubah jadi benci pada Alex. Sanggupkah Amelia memilih di antara…