Langsung ke konten utama

Bergegas


 Aku tahu hidup ini selalu mengajarkan kita untuk memilih. Kita selalu dihadapkan kepada dua hal, dan kita tetap saja harus memilih. Apa kita bisa menentukan satu di antaranya ketika keduanya adalah dua hal yang kita anggap penting? Anggap saja ini alur hidup yang harus kita lalui, meskipun kita berdarah-darah ketika melaluinya.
***
 26 Juni 2015, kontrak tinggalku di asrama ini sudah habis. Aku sudah satu tahun yang lalu menetap di sini. Banyak suka duka yang aku lalui, tetapi aku yakin lebih banyak hal-hal tak enak yang kurasakan. Begini, aku mencobanya untuk mengurainya satu per satu, tetapi apakah kau siap mendengarkannya? Terlebih, ini hanyalah kisahku sendiri, sekelumit cerita yang mungkin saja terdengar tidak menarik.
 Setahun lalu, aku baru saja keluar dari asrama umum kampusku. Saat aku telah menunaikan kewajiban di masjid kampus, saat siang terik itu aku menyengaja dulu untuk membaca-baca sebentar di hadapan majalah dinding masjid.
 “Dede lihat, ada pengumuman yang excited!” Ucap temanku.
 Aku tentu saja refleks bertanya balik, “Apaan?”
 Temanku melontarkan kata-katanya, “Dibuka pendaftaran baru untuk menjadi penghuni asrama masjid, mari menjadi pengurus masjid yang nantinya memakmurkan masjid! Deadline pendaftaran tanggal 31 Mei 2014, syaratnya adalah: IPK di atas 2,85, mahasiswa putra semester 3 minimal, dan berkelakukan baik! Kayaknya kamu cocok, De!”

 Saat itu dipikir-pikir memang lumayan juga sih, bukankah aku memiliki rencana untuk membeli netbook, sehingga aku harus menginvestasikan uangku, mungkin dengan tinggal di asrama masjid aku bisa menyisihkan uang lebih banyak. Aku akan mencobanya, bagaimanapun ini pasti bisa membahagiakan kedua orangtuaku ketika aku bisa terpilih! Aku berujar dalam hati.
 “Jadi gimana, De? Kalau saya sih jauh dari persyaratan ini ya?” kelakar temanku.
 Aku hanya tersenyum dan akhirnya bilang begini, “Ya, mikir-mikir dulu deh!”
 Temanku langsung mengeryitkan dahi, “Duh, mikir-mikir segala kayak ini ujian aja!”
 Sontak aku langsung menjawabnya, “Ya terserah saya lah, namanya juga tempat tinggal apalagi ini asrama baru, harus dipikirin mateng-mateng!”
 Ia pun langsung terdiam
***
Aku sudah tinggal di asrama lama sejak tingkat satu. Dan aku sebenarnya betapa kecewa dengan fasilitas di sana. Bagaimana mungkin aku harus bolak-balik dari lantai ketiga ke lantai kesatu hanya demi buang air kecil, apalagi di kamar mandi tersebut fasilitas airnya minim. Duh, menyedihkan. Duh, semoga saja di asrama baru yang letaknya dekat masjid itu fasilitasnya memadai. Aku berharap.
“Ya sudah, kalau begitu daftar saja, lumayan kan De bisa meringankan biaya kuliah dari orangtuamu ini.”
Aku mendengar suara bapak dari seberang sana, rumahnya jauh tentu saja dari asrama tempat tinggalku kini. Suara bapak dari telepon terdengar mantap.
“Iya sih pak, tetapi saya masih khawatir, takut-takut kegiatan di sana sungguh-sungguh bakal membuat capai saya!” Aku mengeluh.
 “Lha, kamu gimana tho, belum-belum udah ngeluh, gimana sih kamu. Habiskan masa muda kamu dengan berlelah-lelah, tidak apa-apa. Yang penting nanti kamu bakal bisa berkembang di sana!” Bapak masih berkicau.
 Aku sedikit heran dengan perkataan bapak, “Maksud bapak?”
 Jeda sejenak sebelum bapak bicara.
 “Begini ya De, tidak apa-apa kamu coba dulu aja tinggal di sana, dengan segala konsekuensi coba aja menjadi kamu yang selama ini di comfort zone, sekarang saatnya kamu tinggalkan dulu kehidupan di asrama lamamu itu!”
 Aku seakan mendapatkan ide ketika bapak berkata demikian, “Hemm… tapi pak kalau Dede gak kuat boleh cepet-cepet pindah ke kost ya?”
 Bapak bergumam lirih kemudian, “Yaaa …”
 Aku dalam hati bersorak kegirangan.
***
 Segalanya berjalan cepat bagai tak terasa. Kini di tanganku tergenggam formulir pendaftaran. Aku ingin pergi ke sekretariat masjid kampus untuk memberikan benda itu. Ini langkah awal bagaimana aku mencoba melewati seleksi awal terdahulu yaitu seleksi administrasi. Bagaimanapun caranya, aku harus lolos.
 Aku pasti bisa! Batinku.
***
 Tanggal 15 Mei 2014. Seleksi wawacara tiba, aku sangat terpukul ketika tadi ketika melewati rangkaian kegiatan di sesi tersebut. Pertanyaan-pertanyaan sejauh ini seputar komitmen, komitmen, dan komitmen. Seakan pihak yayasan masjid tidak rela kalau asrama masjid dtinggali manusia-manusia tak bertanggung jawab dan apatis. Aku, tentu saja menjawab mantap setiap pertanyaan, meskipun terbersit ragu. Apakah aku bisa hidup dengan pola hidup yang amat sangat disiplin sekali?
***
 23 Juni 2014 saat aku senang karena diterima lewat sebuah pengumuman yang terpajang di majalah dinding masjid kampus. Bahagianya sungguh tak kentara. Aku menyunggingkan lengkungan di bibirku sepanjang hari. Dream comes true!
***
 Bulan-bulan awal aku lalui segalanya dengan mudah. Penghuni asrama adalah orang-orang yang telah sebelumnya aku kenal karena mayoritas berasal dari asrama lama, baik kakak tingkat maupun teman seangkatan. Aku menjalani kehidupan yang sungguh membuatku terus bersyukur. Bisa melaksanakan solat berjamaah di masjid, tepat waktu, rajin mengikuti kegiatan kajian yang diadakan DKM masjid pengurus mahasiswa dan lain-lain. Aku bahkan menjadi salah satu orang penting di miniatur kehidupan yang kini kujalani ini. Aku menjadi bendahara di organisasi lingkup kecil yang kini kudiami.
 Tetapi segalanya tak berjalan mulus seperti layaknya di awal. Bagaimana mungkin ini bisa terjadi? Aku pun tidak mampu menjawabnya!
 Aku memang berhasil melewati satu semester di tempat tersebut dengan damai. Tetapi, semester berikutnya? Oh, jangan ditanya. Bagaimanapun aku sungguh merasa letih hati, batin, dan tenaga. Terlalu banyak tuntutan dari organisasi lain yang aku ikuti, terlalu padat jadwal di perkuliahan, terlalu banyak tuntutan sana-sini, orangtuaku jarang mengirimi uang lagi, ada krisis di rumah. Dan saat itu aku berpikir, apa yang harus aku lakukan sekarang?
 Segalanya memang berlalu dan dapat diselesaikan. Tetapi, setiap penyelesaian masalah harus membutuhkan pengorbanan bukan? Aku melaluinya, ya semester gila ini! Tetapi, aku benar-benar meninggalkan kewajiban yang harus aku lakukan di asrama. Aku tak perlu menjawabnya,, mungkin kau sudah menduga atau menerkanya. Ini tak lebih baik dari sebelumnya, dan ketika aku menuliskan tulisan ini, aku harus benar-benar bergegas pergi ke tempat lain. Karena segalanya sudah tak sesuai rencana, segalanya harus dari nol lagi.[]

Komentar

Postingan populer dari blog ini

D3 Bahasa Inggris Polban

[Review] Rahasia Tergelap by Lexie Xu

Review Novel ‘I am Yours’ Karya Kezia Evi Wiadji

Sinopsis Awalnya Amelia dijadikan sasaran empuk Alex. Playboy itu menginginkan Amelia menjadi pacarnya karena gadis itu mungil dan tampak energik. Sahabat Alex, David selalu setuju dan memaklumi temannya yang buaya darat itu, ia percaya bahwa kali ini Alex tidak akan bertingkah lagi. Karena sebenarnya David pun mencintai Amelia, melebihi Alex, melebihi perkiraan Amelia yang sebenarnya. Dalam usahanya menjadikan Amelia pasangannya, Alex selalu mengajak David, dan Amelia selalu mengajak sahabatnya Sandra yang diam-diam sepertinya mencintai David. Detik berlalu, menit berganti, dan tentu saja ada yang berubah, ada yang mengalami proses dengan cepat. Alex kini resmi menjadi pacar Amelia.             Namun, dalam prosesnya lama-kelamaan Amelia tidak senang dengan kehadiran Alex lagi. Saat ia tahu ada seseorang yang mengandung benih Alex, ia juga dihadapkan pada perasaan hangat David yang datang dengan sangat tepat—saat cintanya berubah jadi benci pada Alex. Sanggupkah Amelia memilih di antara…