Langsung ke konten utama

Musim Basah


Tiada hujan, maka tiada meluncur puisi-puisi yang turun dari langit. Bagi Rayina butir-butir dingin yang meluber dari langit selalu memberikannya ketenangan yang luar biasa, layaknya hari ini saat sudah beberapa hari tak hujan, ia sekarang bersama hujan yang menjebaknya di depan sebuah toko fotokopian yang tutup. Di tempat yang lengang itu ia terjebak bersama seorang lelaki bersetelan serba hitam.
    Si lelaki menatap sesuatu di depannya. Entah apa. Rayina yakin di depannya beserta lelaki itu mereka hanya melihat hujan dan beberapa kali kendaraan yang lewat. Baginya sekarang lelaki itu membuatnya siaga. Bagaimanapun Rayina memiliki kenangan yang buruk tentang hitam.
    Jack, pacarnya dulu suka sekali warna hitam. Sampai-sampai suatu hari Rayina mendapatkan bingkisan yang Rayina coba buka tepat satu jam setelah Jack memberikan barang spesial itu. Rasanya Rayina akan bangga karena dugaannya tentang kado tersebut adalah beberapa batang coklat. Dan benar saja saat itu Jack memberikannya beberapa batang coklat, tetapi kenapa berbentuk hati yang jumlahnya dua yang kedua-duanya berwarna hitam?
    Kala teduh, Jack selalu menyarankan Rayina untuk membawa sebungkus jas hujan. Dan lagi-lagi Jack menyuruhnya untuk membawa benda berwarna hitam. Rayina tak mengindahkan saran Jack, membuat Jack selama berhari-hari tak mengajaknya bicara. Saat Rayina harus kehujanan, untung saja Jack datang. Tetapi lelaki itu tak memberikan Rayina jas hujan hitam, melainkan membawa Rayina beriringan dengannya agar tak terkena air-air hujan, tentu di bawah lindungan payung berwarna hitam.
    Beberapa bulan lalu, Jack lenyap dari muka bumi karena kecelakaan. Betapa ia sangat malang sekali karena di hari ulang tahunnya ia yang hendak mengucapkan kata-kata paling romantis untuk Rayina malah harus menelan maut bulat-bulat. Saat itu Rayina hanya kaku lemas. Gadis itu meneteskan air mata, macam ada air terjun saja di kedua penglihatannya. Ia larut dalam duka dalam waktu yang tidak sebentar, sampai tibalah di tempat ini, tempat yang mengingatkannya pada sosok Jack, karena di sana seperti ada sosok Jack yang tiba-tiba menjenguknya.

    “Bersedih selalu membuat hati kita merasa nyeri.”
    Rayina membelalakan mata saat mendengar orang di hadapannya yang telah berkata-kata barusan.
    “Benar. Dan kita akan merasakan semakin sakit kala terus berkubang dalam sedih.”
    Rayina menjawab seadanya. Lelaki tadi menyeringai.
    “Lantas? Kenapa kau terus menabung pilu di dalam jiwamu?”
    Lelaki tadi seakan mencecar terus Rayina. Gadis itu anehnya malah meladeninya terus tanpa lelah, seakan menemukan teman bicara yang asyik kala cuaca tengah tak bersahabat.
    “Kenapa kau bisa tahu? Ia alias kesedihan terus bergumul di hari-hariku mungkin karena ia tak punya jiwa kosong lain yang bisa dihinggapi lagi …” Rayina sedikit tak percaya dengan kata-katanya. Kalimat-kalimat itu sebenarnya bernada kosong baginya.
    Lelaki itu kini membuka payungnya, tetapi belum sempat benda itu ia posisikan di atas kepalanya, ia masih tetap merespon Rayina.
    “Kalau begitu biarkanlah ia menjadi energi pematik yang akan meletupkan semangat-semangat positifmu dalam menjalani hidup. Kadang memang takdir selalu tak adil, tetapi setiap manusia pasti bisa menyiasati segalanya dengan cara-cara tertentu.”
    Untuk kata-kata barusan yang Rayina dengar, menurutnya itu sangat sulit ditelaah.
    “Hemmm … baiklah kuterima saranmu meski aku tak mengerti ….”
    Lelaki di hadapa Rayina mengangguk.
    “Lalu, sebenarnya siapakah dirimu?” Rayina mencoba memberanikan diri.
    Lelaki itu tedeng aling-aling untuk pergi.
    “Itu bukan hal penting. Yang menjadi prioritasku sekarang adalah kau harus bahagia meski duka tak akan berhenti menyelimutimu …”
    Ia bergegas sambil membawa payungnya yang tentu saja memproteksinya dari hujan yang sekarang tengah berkolaborasi dengan angin. Mencipta badai kecil.
    “Tungguuu!”
    Rayina bicara sekeras mungkin untuk menahannya. Pria tadi kemudian seakan terdistorsi begitu saja dari hujan lalu seakan terarsir fisiknya setelah hilang dari pandangan Rayina, lelaki itu tak ada jejaknya setelah kendaraan-kendaraan yang lewat di hadapan Rayina menyembunyikan sosoknya yang bergegas pergi dengan terburu-buru.
***
Teduh datang dan hati Rayina tentram. Ia selalu merindukan momen-momen seperti ini kala hatinya sedang bahagia. Ia temukan satu surat keresahan dari Jack lewat ibunya, surat itu isinya sangat panjang sekali seakan memperingatkan Rayina untuk tetap tersenyum meskipun segala dalam hidupnya mungkin sangat sering tak berpihak padanya. Intinya Jack menyuruh Rayina untuk sabar, segala badai pasti berlalu seperti bunyi lirik lagu Crisye.
Rayina membaca surat Jack sembari menatap ke arah jalanan sana. Rayina dari posisi lantai dua di kamarnya, lewat jendela ia lihat butir-butir itu turun. Anak hujan datang lagi dan membawa gigil yang kentara berharmonisasi liris dengan aroma tanah basah yang berkecipak-kecipak seakan bersyair menyenandungkan lagu alam. Momen ini …
“Lelaki itu lagi ….”
Rayina menatap ke arah bawah. Di sana masih ada lelaki berpakaian hitam, berpayung hitam. Ia hadir lagi, selalu begitu kala guyuran dari langit datang, sang sosok itu pasti mengunjungi Rayina lagi dan lagi baik secara langsung maupun tidak langsung. Sungguh ganjil, pikir Rayina.
Rayina menuruni anak tangga rumahnya menuju depan pintu. Lalu ia tak menukan kekosongan di sana.
“Ke mana …”
Hujan gerimis pun berhenti. Tak pernah ada tanda tanya yang begitu terus membelit pikiran Rayina selama dia hidup. Barulah kali ini merasakan hal layaknya kabut terus melingkupinya seakan ada yang terjadi namun tak mampu didefinisikan.
Rayina lalu meneruskan membaca surat dari Jack. Jantungnya seakan mau copot saat matanya tiba di bagian terakhir surat itu.
Rayina kutitipkan satu malaikat hujan yang akan selalu menyertaimu kalau-kalau aku nanti permisi untuk pergi selamanya …
Sekarang semuanya terasa masuk akal bagi Rayina. Surat itu seakan membuka otaknya lebar-lebar. Asosiasi antara sosok serba hitam, hujan, dan surat terakhir Jack. Rayina paham bahwa segalnya mungkin sudah diatur oleh Sang Pencipta. Meskipun kini Rayina bertanya-tanya, sampai kapan ia akan dikuntit makhluk tersebut?
Di luar gerimis yang telah berhenti kemudian menggelar orkestranya kembali.  Sesosok hitam kini mengembangkan sayapnya yang pekat untuk mengunjungi sesuatu yang tengah masih mendedah lembar-lembar rintih di pelupuk jiwanya. Rayina akan tenang ….[]

Komentar

Postingan populer dari blog ini

D3 Bahasa Inggris Polban

[Review] Rahasia Tergelap by Lexie Xu

Review Novel ‘I am Yours’ Karya Kezia Evi Wiadji

Sinopsis Awalnya Amelia dijadikan sasaran empuk Alex. Playboy itu menginginkan Amelia menjadi pacarnya karena gadis itu mungil dan tampak energik. Sahabat Alex, David selalu setuju dan memaklumi temannya yang buaya darat itu, ia percaya bahwa kali ini Alex tidak akan bertingkah lagi. Karena sebenarnya David pun mencintai Amelia, melebihi Alex, melebihi perkiraan Amelia yang sebenarnya. Dalam usahanya menjadikan Amelia pasangannya, Alex selalu mengajak David, dan Amelia selalu mengajak sahabatnya Sandra yang diam-diam sepertinya mencintai David. Detik berlalu, menit berganti, dan tentu saja ada yang berubah, ada yang mengalami proses dengan cepat. Alex kini resmi menjadi pacar Amelia.             Namun, dalam prosesnya lama-kelamaan Amelia tidak senang dengan kehadiran Alex lagi. Saat ia tahu ada seseorang yang mengandung benih Alex, ia juga dihadapkan pada perasaan hangat David yang datang dengan sangat tepat—saat cintanya berubah jadi benci pada Alex. Sanggupkah Amelia memilih di antara…