Langsung ke konten utama

Sajak 2


Nadi Pejuang



Lebih dari belasan windu lalu, darah adalah harga mati
Yang tak bisa dihalalkan, melainkan harus dibeli dengan sejuta keping kehormatan
Milik seorang biasa tak tahu nama dan di mana bentengnya
Kita harusnya sadar, betapa perjudian masa lalu telah kita menangkan
Meski bukan oleh kita, oleh mereka si lampau bermartabat
Sekarang menyisa kompetisi sehat namun rasanya orang-orang telah berpaling
Malas, konspirasi, dan pemenang yang menyebut dirinya pecundang hadir tanpa hormat
Yang datang di tengah-tengah kita
Mengaku sebagai pejuang, lebih tepatnya cucu cicit veteran
Lantas kita lalu berdalih makan uang mereka
Minum jua dari belas kasih mereka
Kita pejuang kah?
Benar, pejuang yang kalah sebelum berperang
Mengangguk ketika ada dollar, menari saat saudara kita merintih

Nadi pejuang telah hilang, binasa melebur karena keegoisan
Lalu jejak sejarah mencatat tentang sebuah prediksi
Nyatanya mereka juga bilang bahwa di masa nanti kita akan jadi tumbal
Karena apa?
Pejuang-pejuang tadi diam, sejenak mereka memutar arah pola ramal mereka
Satu detik, dua detik berlalu, berganti jam, hari kemudin berselimut tahun
Mereka lenyap dalam tik-tok jam yang pasif
Ramalan mereka termaktub dalam kitab
Dan jiwa mereka masih setia duduk di sana
Bercerita bahwa anak buyutnya tak akan kuat melawan diri mereka sendiri, katanya ....

Cirebon, 7 Juni 2013

Komentar

Postingan populer dari blog ini

D3 Bahasa Inggris Polban

[Review] Rahasia Tergelap by Lexie Xu

[Review] Antologi Rasa by Ika Natassa