Langsung ke konten utama

Lukisan Senja

Lukisan Senja



Aku masih menunggu seseorang di sini. Hendak kutancapkan kanvas itu dengan kuas lembut, namun aku masih menunggu seseorang. Aku tidak mungkin melakoni kegiatan favoritku tanpa dia. Menurutku, dia itu sesuatu ....
Kutatap arlojiku yang berwarna perak kelabu, dua jam lagi senja akan terlukis di ufuk barat sana. Aku sudah tak bisa lagi untuk mematung di sini, dengan ketidakpastian yang pasti membuatku merasa bosan. Aku tak mungkin menyeretnya dari tempatnya berdiri sekarang, entah dengan siapa dia, sedang melakukan apa, atau dia telah melupakanku? Akh.... Aku sungguh tak peduli. Aku masih setia menunggu di gubuk reot ini, ditemani perdu, diteduhi oleh pohon Cocos nucifera yang melambai-lambai ketika mendengar alunan angin yang menggesek setiap sendi-sendi tubuhnya. Ini lebih menyejukkan dibanding melihatnya dengan yang lain. Ya?
***
Tiga tahun lalu....
Aku baru datang ke tanah seribu candi ini, entah namanya apa. Ini hanyalah salah satu permai yang menjadi puzzle paling indah di Bali. Aku bodoh tidak mengenal nama pantai ini, aku lebih akrab dengan kata Sanur atau salah satu pantai di Nusa Penida. Duh, lagi-lagi aku lupa namanya. Sungguh bodohnya diriku sehingga aku lebih memilih jadi seorang yang memainkan kanvas, membuat kehidupan dalam dipan kanvas putihku. Aku lebih memilih ini meskipun aku lulusan MIPA di salah satu universitas terkemuka di kota pelajar.
"Good morning, Mister!" gadis itu sedikit mengagetkanku.
Hah? Mister? Batinku menggeliat tak karuan mendengar dugaan gadis berambut lurus tadi. Mungkin karena
wajah Indoku dan penampilanku yang ala backpacker-backpacker kali iya? Jadi, dia memanggilku aneh seperti itu.
"Saya bisa Bahasa Indonesia kok! Saya emang blasteran Cirebon-Belanda!" 
Sejenak kulihat wajah merah gadis Bali itu. Entah karena malu atau .... Akh, aku tak suka menduga-duga. Aku akan sakit jika dia langsung mengungkapkan statusnya, yang mungkin sudah punya tunangan.
"Saya diutus Bapak untuk menjemput Anda! Mari ikut saya!" ajaknya sepersekian detik kemudian setelah ia memamerkan wajah wagunya tadi.
Duh.... Kenapa kita sekaku ini? Tidak bisakah kita tinggalkan keformalan barang dua atau tiga kesempatan saja. Sehingga, saat itu aku langsung melontarkan lelucon anehku.
"Jika kamu kartun, sepertinya kamu cocok jadi Shizuka?" tanyaku dalam perjalanan dari tepi jalan menuju rumah dekat pantai itu, lebih tepatnya villa.
"Akh, bisa saja!" jawabnya singkat membuatku kembali gugup.
"Eh, ngomong-ngomong kita belum kenalan?" 
Sedetik, dua detik, tiga detik, akhirnya sampai setengah menit gadis itu hanya mengulum senyum. Aku kembali bingung ingin berekspresi apa....
***
Amila namanya. Dia anak Pak Sobir, si penjaga villa orang tuaku di pantai ini. Sudah berapa lama, entah aku tak tahu dua orang itu menempati villa milik orang tuaku. Yang kutahu tiada perempuan yang berperan sebagai istri Pak Sobir atau sebagai ibu Amila.
"Tujuan tuan ke mari liburan yah tuan?" decak sang gadis berambut panjang itu.
"Amila...." aku sedikit menggerutu di gubuk itu.
"Tidak!" jawabku singkat kemudian.
"Lalu untuk apa ke mari?" tanya gadis itu penasaran. Aku menduga gadis itu baru saja lulus SMA. Dilihat dari perawakan dan gaya bicaranya, dia adalah gadis yang dibesarkan dengan kesabaran dan kesopanan untuk menjalani hidup. Aku hampir termangu....
"Tuan?" tanya Amila melebur lamunanku.
"Oh iya. Saya hanya ingin refreshing."
Kemudian kulihat ia menyesal dan meronta.
"Itu namanya liburan! Sama saja...."
Kemudian kami saling berbincang tentang apa-apa yang kami sukai. Juga tentang apa-apa yang kami benci, inginkan, bahkan yang paling tidak berguna sekalipun dalam kehidupan kami.
"Kamu bermimpi menjadi putri senja? Impian yang aneh...." desakku.
"Ya bolehlah. Tuan saja boleh kok bermimpi jadi pelukis sekelas Afandi suatu hari nanti. Hehehe ...." Amila membuatku terhenyak.
Kami terus kisruh tentang segala hal, kami lupa telah seminggu kami saling kenalan. Pun tentang tujuanku di sini, ia tidak tahu. Aku belum cerita, karena aku belum mengenalnya lebih dalam.... Aku masih meragukan sesuatu yang mengganjal di hatiku ini.
***
Pada awalnya aku datang ke mari dengan tujuan untuk menjual villa milik orangtuaku. Tetapi, melihat dua orang itu aku tidak tega. Aku tidak mau melihat mereka hengkang dari sana. Bagaimanapun aku belum bisa melihat Amila dan Bapaknya Pak Sobir harus angkat koper!
"Amila, jika suatu hari nanti kamu harus pergi dari sini, mau tinggal di mana?" aku menghela napas ketika berkata hal tersebut.
"Terserah!" singkat ia menjawab.
"Maksudmu?" tanyaku sembari melukis pemandangan itu. Senja .... Ya, langit jingga pukul lima sore ....
"Terserah takdir akan membawaku. Aku memang belum kerja dan tak mungkin bisa kuliah dalam waktu dekat. Aku akan berusaha, tanpa menyusahkan Bapak...."
Seperti ada tamparan keras pada rahang pipiku. Aku selama ini selalu menyusahkan Ayah. Apalagi, Ibu. Mungkin setiap bulan aku selalu berbohong tentang kost dan biaya kuliahku di Yogya. Tapi, sekarang aku sudah bekerja. Setidaknya itu bisa membayar lelah mereka saat dulu.
"Memang kamu bakal mengusirku?"
Aku menelan ludah sejenak. Aku harus bilang apa kepadanya? Aku merasa tak tega. Melihat bicaranya tadi, aku hampir merebus perasaan di dalam batinku yang meracau tak karuan.
"Emmm.... Tidak!" ungkapku singkat.
"Sudahlah jangan berbohong. Aku malah sudah tahu, kata Bapak jika sudah 20 tahun kita hidup di villa ini, kita harus pergi."
Aku tidak bisa berekspresi. Sore itu adalah hari kedua puluh aku di sini, aku tidak mampu mengambil tindakan tegas.
***
Setelah hari itu, esoknya aku tak mendapati dua orang itu di bangunan ini. Aku hanya menemui sepucuk surat. Terlalu panjang, sehingga aku hanya ingat kalimat pentingnya saja.
Fikran, kami sadar kami hanya menumpang di sini. Untuk itu kami akan pergi. Maaf ini tak sopan, tapi aku harus pergi! Tadi malam Bapak pamit padamu kan? Lima bulan lagi, aku akan kirim undangan kepadamu. Aku akan menikah.
Amila
Seolah bola ruby laksana matahari mengoyak jiwaku saat itu. Aku terhenyak pada kata terakhir yang kuingat saat itu? Padahal ada rasa yang hampir tumbuh saat itu .... Aku menyesal, terus mengingat peristiwa itu. Sampai akhirnya aku hendak melukis senja itu, ia tampak sepertimu Amila. Ia memang datang setiap pukul-pukul hampir Maghrib. Tapi, ia tidak akan selamanya berada di langit itu. Akan ada bintang yang menggantikannya, juga matahari, juga bulan, juga awan, kadang mendung, dan bla... bla... bla.... Aku terus melukis wajah senja di sini. Menunggumu kembali walau suatu saat nanti. Untuk minta maaf atau menyatakan perasaan ini? Yang belum sempat dibuncah di hadapanmu ....
 ______________________________
 Dimuat 29 Juni 2013 di Kabar Cirebon.

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

D3 Bahasa Inggris Polban

[Review] Rahasia Tergelap by Lexie Xu

Review Novel ‘I am Yours’ Karya Kezia Evi Wiadji

Sinopsis Awalnya Amelia dijadikan sasaran empuk Alex. Playboy itu menginginkan Amelia menjadi pacarnya karena gadis itu mungil dan tampak energik. Sahabat Alex, David selalu setuju dan memaklumi temannya yang buaya darat itu, ia percaya bahwa kali ini Alex tidak akan bertingkah lagi. Karena sebenarnya David pun mencintai Amelia, melebihi Alex, melebihi perkiraan Amelia yang sebenarnya. Dalam usahanya menjadikan Amelia pasangannya, Alex selalu mengajak David, dan Amelia selalu mengajak sahabatnya Sandra yang diam-diam sepertinya mencintai David. Detik berlalu, menit berganti, dan tentu saja ada yang berubah, ada yang mengalami proses dengan cepat. Alex kini resmi menjadi pacar Amelia.             Namun, dalam prosesnya lama-kelamaan Amelia tidak senang dengan kehadiran Alex lagi. Saat ia tahu ada seseorang yang mengandung benih Alex, ia juga dihadapkan pada perasaan hangat David yang datang dengan sangat tepat—saat cintanya berubah jadi benci pada Alex. Sanggupkah Amelia memilih di antara…